CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Jumat, 13 April 2012

Laporan pil

BAB I
PENDAHULUAN

1. Maksud Praktikum
    Adapun maksud dari praktikum farmasetika dasar ini yaitu :
a.    Agar dapat mengetahui proses pembuatan sediaan pil
b.    Agar dapat terampil mengerjakan resep-resep sediaan pil

2. Tujuan praktikum
    Adapun tujuan praktikum ini yaitu :
1.    Dapat membuat sediaan pil dengan baik dan benar sesuai dengan prinsip kerja.
2.    Dapat mengetahui fungsi dari masing-masing pil, efek samping, serta memberikan informasi kepada pasien (edukasi)




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

    Pil adalah suatu sediaan yang berbentuk bulat seperti kelereng mengandung satu atau lebih bahan obat. Berat pil berkisar antara 100 mg sampai 500 mg.
    Pil kecil yang beratnya kira-kira 30 mg disebut granula dan pil besar yang beratnya lebih dari 500 mg disebut boli. Boli biasanya digunakan untuk pengobatan hewan seperti sapi, kuda dan lain-lain.
    Bila tidak disebut lain granula mengandung bahan obat berkhasiat 1 mg.
    Untuk membuat pil diperlukan zat tambahan seperti zat pengisi untuk memperbesar volume, zat pengikat dan zat pembasah dan bila perlu ditambah zat penyalut.
1.    Sebagai zat pengisi digunakan Liquiritiae Radix, Saccharum Lactis, dalam hal khusus untuk zat oksidator digunakan Bolus Alba, campuran Succus Licuiritiae dan Licuiritiae Radix sama banyak (pulfis pro pilulae) dan bahan lain yang cocok.
2.    Sebagai zat pengikat Succus Licuiritiae, P.G.A., Tragacanthae, Pulvis Gummosus (campuran P.G.A, Tragakan dan Sacchaeum albim), Oleum Cacao, Adeps Lanae, Vaselinum dan bahan lain yang cocok.
3.    Sebagai zat pembasah digunakan air, gliserol, sirop, madu, campuran bahan tersebut atau bahan lain yang cocok.
4.    Sebagai zat penyalut digunakan perak, Balsamum Tolutanum, Serlak, kolodium, Salol, Gelatin, gula atau bahan lain yang cocok. (Anief, 2004)
Syarat pil menurut F.I. ed III adalah :
1.    Pada penyimpanan bentuknya tidak boleh berubah, tidak begitu keras sehingga tidak hancur dalam saluran pencernaan, dan pil salut enteric tidak hancur dalam lambung tetapi hancur dalam usus halus.
2.    Memenuhi keseragaman bobot. Timbang 20 pil satu persatu, hitung bobot rata-rata, penyimpangan terbesar bobot rata-rata, adalah:
           Untuk bobot rata-rata pil            Penyimpanan terbesar
                                18 pil        2 pil
      100 mg sampai 200 mg                10%        20%
      250 mg sampai 500 mg                7,5%        15%
3.    Memenuhi waktu hancur seperti tertera pada compressi yaitu dalam air 36 – 38 derajat selama 15 menit untuk pil tidak bersalut dan 60 menit untuk pil yang bersalut.
Pembuatan pil yang menghendaki tindakan khusus :
1.    Pil yang mengandung senyawa Hydrargyrum, dibuat dengan menggerus Hydrargyrum, dengan sama berat Licuiritiae Radix dan air, setelah tidak terlihat butir Hydrargyrum (mati) maka massa ditambah Licuiritiae Radix dan Succus Licuiritiae secukupnya sampai mendapat massa pil yang cocok.
2.    Pil yang Mengandung Ferrosi Carbonas dan Ferrosi Iodidum.
    Untuk pil Ferrosi Carbonas setiap pil mengandung 50 mg dan formula untuk pembuatan 300 pil jadi seluruh formula mengandung 15 gram Ferrosi Carbonas. Dibuat dengan mereaksikan Ferrosi Sulfat dengan natrii/ bikarbonas diatas tangas air. Sebagai pereduksi adalah Mel dan sebagai zat pembasah gliserin dan air sampai berat tertentu
3.    Pil yang mengandung garam-garam yang dapat menyerap air, seperti Natrii Bromidum dan Natrii Iodidum sering terjadi penggumpalan hingga sulit sulit dibuat massa pil yang baik. Untuk mencegahnya maka perlu diberi air secukupnya biar larut setelah itu dibuat massa pil.
4.    Pil yang mengandung zat-zat yang higroskopis, seperti Kalli Bromidum, Kalli Iodidum dan Natrii Salicylas, supaya digerus halus  dan di dalam mortir yang panas. Penambahan Succus Licuiritiae dan Pulvis Licuiritiae Radicis diperlukan kurang lebih 1,5 g masing-masing untuk 7 g garam obat tersebut.
5.    Pil yang mengandung senyawa yang sangat higroskopis, digunakan sebagai larutan, seperti Calcii Bromodum, Calcii Chloridum, Kalli Acetas. Jika di dalam resep tertulis garamnya, maka diambil larutannya yang sebanding.
6.    Pil yang mengandung senyawa Codeinum base dengan garam Ammonium atau Ichtammolum. Karena Codeinum base terhitung mudah larut dalam air dan merupakan base lebih kuat dari garam Ammonium, maka akan bereaksi dan timbul gas NH3       yang bebas serta membuat pil menjadi pecah.
7.    Pil yang dapat pecah karena zat-zat yang terkandung dapat bereaksi hingga menimbulkan gas yang memecah pil. Supaya tidak terjadi, jangan menggunakan zat pembasah air yaitu dengan menggunakan zat pengikat yang yang lain.
8.    Pil yang mengandung Hydrargyri Chloridum akan menghilangkan selaput lendir dari lambung dan usus, maka perlu Hydrargyri Chloridum dalam keadaan yang halus. Untuk itu perlu penambahan Natrii Chloridum untuk memudahkan Hydrargyri Chloridum larut dalam air.
9.    Pil yang mengandung Diphantoinum Natrium jangan menggunakan Liquiritiae Radix tetapi menggunakan Succus Liquiritiae 1 bagian dan Amylum 3 bagian dan sebagai zat pembasah digunakan Sirupus Simplex. Hal ini untuk menjaga agar pil lekas hancur dalam lambung.
10.    Pil yang mengandung Quinini Sulfas ada dua macam, yaitu yang berwarna coklat dan putih.
11.    Pil yang mengandung zat pengikat yang bersifat asam, seperti Gentanae Extractum, Succus Liquiritiae, dan Liquiritiae Extractum. Bahan tersebut akan bereaksi dengan Ferrum reductum, Ferrum pulveratum yang menimbulkan gas H2 serta menyebabkan pil menjadi menggelembung dan pecah. Bahan tersebut akan bereaksi pula dengan Natrii Bicarbonas, Ferrosi Carbonas yang menimbulkan gas CO2 serta menyebabkan pil menjadi menggelembung dan pecah. Maka itu Gentanae Extractum, Succus Liquiritiae, dan Liquiritiae Extractum harus dinetralkan dahulu dengan MgO 50 mg tiap gram Ekstrak dan Succus.
12.    Pil yang mengandung Ekstrak kering dikerjakan sebagai berikut:
a.    Aloe Extractum Aquosum siccum, Rhamni Frangulae Extractum, Rhamni Phursianae Extractum siccum, Rhei Extractum siccum dapat dibuat pil cukup dengan  Liquiritiae Radix dan zat pembasah aqua Glycerinata.
b.    Chinchonae Extractum siccum, dan Colae Extractum siccum memerlukan Succus Liquiritiae sebagai zat pengikat untuk dibuat massa pil.
c.    Pil dengan extrak kering supaya dibuat keras jangan lembek agar tidak berubah bentuk. (Anief, 2004)
Penyalutan pil    :
    Untuk menghindsrioksidasi zat aktifnya. Penyalutan dilakukan dengan larutan Balsamum Tolutanum 1 bagian dalam 9 bagian kloroform. Dilakukan dalam botol mulut lebar, pil-pil disiram dengan sedikit larutan Tolubalsem tersebut dan digojok keras-keras lalu dipindahkan pada piring lalu digerak-gerakkan agar tidak  melengket sampai kering.
    Untuk menghindari agar pil tidak pecah dalam lambung, karena:
1.    Zat aktifnya tidak dikehendaki bekerja dalam lambung, tetapi dalam usus.
2.    Zat aktifnya mengirtasi lambung.
3.    zat aktifnya rusak karena adanya asam lambung.





BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIKUM
RESEP 21

I. Resep asli/standar
    a. Resep asli   
    R/  Aminophylline        0, 1

    b. Kelengkapan Resep
        - Paraf dokter tidak tertera
    c. Penggolongan Obat
        O    :
        G    : Aminophylline (MIMS’07 ; 73, phyllocontin continues)
        W    :
        B    :
    d. Komposisi Bahan
        Aminophylline        10 mg

II. Uraian Bahan
        1. Aminophylline
a.    Sinonim    : Aminophyllinum, aminofilina, teofilina etilendiamina  (Anonim, 1979)
b.    Khasiat    : Bronkodilator, antipasmodikum, diuretikum
c.    Pemerian     : Butir atau serbuk; putih atau agak kekuningan; bau lemah mirip amoniak; rasa pahit
d.    Kelarutan    : Larut dalam lebih kurang 5 bagian air, jika dibiarkan mungkin menjadi keruh, praktis, tidak larut dalam etanol (95 %) P dan dalam eter P
e.    Dosis    : DL    = 1x    : 100 mg – 200 mg
                       1 hr    : 300 mg – 600 mg
                  DM    = 1x    : 500 mg
                       1 hr    : 1,5 g    (Anonim, 1979)
    2. Saccharum Lactis
a.    Sinonim    : Laktosa, lactosum    (Anonim, 1979)
b.    Khasiat    : Zat tambahan, zat pengisi
c.    Pemerian    : Serbuk hablur; putih; tidak berbau; rasa agak manis
d.    Kelarutan    : Berubah warna menjadi coklat jika terdapat bersama-sama senyawa aminoprimer (misal amfetamin dan asam amino) (handbook of excipient, 193)
    3. Adeps Lanae
a.    Sinonim    : Lemak bulu domba    (Anonim, 1979)
b.    Khasiat    : Zat tambahan, zat pengikat
c.    Pemerian    : Zat serupa lemak, liat, lengket; kuning muda atau kuning pucat, agak tembus cahaya; bau lemah dan khas
d.    Kelarutan    : Praktis tidak larut dalam air; agak sukar larut dalam etanol (95 %) P; mudah larut dalam kloroform dan dalam eter P
    4. Talk
a.    Sinonim    : Talcum (Anonim, 1979)
b.    Khasiat    : Zat tambahan, penabur
c.    Pemerian    : Serbuk hablur, sangat halus licin, mudah melekat pada kulit, bebas dari butiran, warna putih atau putih kelabu
d.    Kelarutan    : Tidak larut dalam hampir semua pelarut
III. Perhitungan Dosis
    1. Aminophylline
DL    = 1x    : 100 mg – 200 mg
               1 hr    : 300 mg – 600 mg
        DM    = 1x    : 500 mg
               1 hr    : 1,5 g       
        Dosis dalam resep :
        1x    = 2 x 0,1 g = 0,2 g = 200mg/20 = 10 mg
        1 hr    = 2 x 10 mg = 20 mg
        Kesimpulan     : Dosis aminophylline subterapi
        Rekomendasi     : Dosis ditingkatkan sesuai DL, menjadi :
        1x    = 2 x 100 mg = 200 mg
        1 hr    = 2 x 200 mg = 400 mg
IV. Penimbangan
     Massa pil        : 200 mg/pil x 20 pil    = 4000 mg = 4 g
    1. Aminofilin    : 100 mg x 20        = 2000 mg = 2 g
    2. Laktosa        : 4 g – 2 g        = 2 g = 2000 mg
    3. Adeps lanae    : 1/6 x 2000 mg    = 300 mg
    4. Talk        : qs
V. Cara Kerja
1.    Disiapkan alat dan bahan
2.    Ditimbang bahan-bahan yang diperlukan sesuai perhitungan
3.    Dicampurkan aminofilin, laktosa, dan adeps lanae digerus hingga halus dan homogen
4.    Setelah terbentuk massa pil, dibuat bentuk silinder dengan cara digulung-gulung pada papan kayu yang telah ditaburi talk, digulung hingga panjangnya sesuai dengan jumlah pil yang dibutuhkan
5.    Dipotong pil dengan pisau pemotong yang ada pada papan pil. Pil yang belum bulat digulung-gulungkan pada papan pil yang telah ditaburi talk, digulung hingga bulat
6.    Pil yang sudah jadi dimasukan ke dalam wadah, dikemas dan diberi etiket putih



VI. Penandaan
    Etiket Putih

XI. Edukasi
1.    Pil ini digunakan sebagai obat asma bronkodilator, anti asma
2.    Pil ini diminum 2 x sehari 2 pil
3.    Simpan ditempat sejuk, kering, dan terlindung dari cahaya matahari
4.    Efek samping gangguan lambung, mual, muntah





RESEP 22

I. Resep asli/standar
    a. Resep asli   
    R/    Permanganas kalikus    0, 05
        Adde pro pil singularis
        Iod kalikus
    b. Kelengkapan resep
        - Paraf dokter tidak tertera
    c. Penggolongan obat
        O    :
        G    :
        W    :
        B    : Talk (MIMS’07 ; 26, Kaolimec)
    d. Komposisi bahan
        Permanganas kalikus    0, 05 g
        Vaselin album        625 mg
        Bolus alba            2500 mg
        Talk            qs

II. Uraian Bahan
    1. Permanganas kalikus
a.    Sinonim        : Kalii permanganas, kalium permanganat (Anonim, 1979)
b.    Khasiat        : Antiseptikum ekstern
c.    Pemerian    : Hablur mengkilat; ungu tua atau hampir hitam; tidak berbau; rasa manis atau sepat
d.    Kelarutan    : Larut dalam 16 bagian air; mudah larut dalam air  mendidih
e.    Dosis        : DM    = 1x    = 10 g ( MD’28th , 1123)
f.    Inkompatibilitas : Dengan iodida menghasilkan suatu zat yang dapat   mempercepat reaksi kimia dan sebagian besar subtansi organic (MD’28th ,1233)
    2. Vaselin putih
a.    Sinonim    : Vaselinum Album (Anonim, 1979)
b.    Khasiat    : Zat tambahan, zat pengikat
c.    Pemerian     : Massa lunak, lengket, bening, putih; sifat ini tetap setelah zat dileburkan dan dibiarkan hingga dingin tanpa diaduk. Berflourensi lemah, juga jika dicairkan; tidak berbau; hampir tidak berasa.
d.    Kelarutan    : Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95 %) P; larut dalam kloroform P, dalam eter P dan dalam eter minyak tanah P, larutan kadang-kadang beropalesensi lemah
    3. Bolus alba
a.    Sinonim    : Kaolinum, kaolin (Anonim, 1979)
b.    Khasiat    : Zat tambahan, penyerap, zat pengisi
c.    Pemerian    : Serbuk ringan; putih; bebas dari butiran kasar; tidak berbau; tidak mempunyai rasa; licin
    4. Iod kalikus
a.    Sinonim    : Kalii iodidum, kalium iodida (Anonim, 1979)
b.    Khasiat    : Anti jamur
c.    Pemerian    : Hablur heksahedral; transparan atau tidak berwarna, opak dan putih; atau serbuk butiran putih; higroskopik
d.    Kelarutan    : Sangat mudah larut dalam air, lebih mudah larut dalam air mendidih; larut dalam etanol (95 %) P, mudah larut dalam gliserol P
    5. Talk
a.    Sinonim    : Talcum (Anonim, 1979)
b.    Khasiat    : Zat tambahan, penabur
c.    Pemerian    : Serbuk hablur, sangat halus licin, mudah melekat pada kulit, bebas dari butiran, warna putih atau putih kelabu
d.    Kelarutan    : Tidak larut dalam hampir semua pelarut
III. Perhitungan Dosis
1.    Permanganat kalikus
    DM    : 1x    = 10 g ( MD’28th, 1123)
    Dosis dalam resep :
    1x    : 2 x 0,05 g    = 0,1 g
    1 hr    : 2 x 0,1 g    = 0,2 g
    Kesimpulan    : Dosis permanganat kalikus terapi
IV. Penimbangan
    Massa pil            : 150 mg/pil x 25 pil = 3750 mg
    Massa bolus alba        : 100 mg/pil
    1. Permanganat kalikus    : 0,05 g x 25     = 1250 mg
    2. Vaselin album        : 1/6 x 3750 mg= 625 mg
    3. Bolus alba        : 100 mg x 25    = 2500 mg
    4. Talk            : qs
V. Cara Kerja
1.    Disiapkan alat dan bahan
2.    Ditimbang bahan-bahan yang diperlukan sesuai perhitungan
3.    Dicampurkan permanganat kalikus, bolus alba, dan vaselin putih digerus hingga halus dan homogen
4.    Massa pil dibuat bentuk silinder dengan cara digulung-gulung pada papan kayu yang telah ditaburi talk, digulung hingga panjangnya sesuai dengan jumlah pil yang dibutuhkan
5.    Dipotong pil dengan pisau pemotong yang ada pada papan pil. Pil yang belum bulat digulung-gulungkan pada papan pil yang telah ditaburi talk, digulung hingga bulat
6.    Pil yang sudah jadi dimasukan ke dalam wadah, dikemas dan diberi etiket putih
VI. Penandaan
    Etiket Putih

XI. Edukasi
1.    Pil ini digunakan sebagai obat anti asma
2.    Pil ini diminum tiap pagi dan sore sebanyak 2 pil
3.    Simpan ditempat sejuk, kering, dan terlindung dari cahaya matahari
4.    Efek samping gangguan lambung, mual, muntah



BAB IV
PEMBAHASAN
RESEP 21
        Pada resep ini pil mempunyai khasiat sebagai asma bronkodilator dan anti asma. Pil  diminum 2 x sehari 2 pil. Disimpan ditempat sejuk, kering, dan terlindung dari cahaya matahari. Dan efek sampingnya yaitu gangguan lambung, mual, dan muntah. Resep ini mengandung dua bahan obat yaitu zat aktif dan zat tambahan.
1. Zat aktif yang terkandung
a.    Aminophillin
Mempunyai khasiat sebagai asma bronkodilator dan anti asma. Dalam perhitungan dosis, dosis dalam resep aminofilin subterapi karena dibawah dosis lazim sehingga dosis harus ditingkatkan sesuai dosis lazimnya.
2.     Zat tambahan yang terkandung
a.    Saccharum Lactis
Sebagai zat tambahan yaitu sebagai zat pengisi
b.    Adeps Lanae
    Sebagai zat tambahan yaitu sebagai zat pengikat
c.       Talk
Sebagai zat tambahan yaitu sebagi zat penabur
        Dalam pelaksanaan resep keduapuluh satu ini alat-alat yang diperlukan yaitu mortir, stemper, serbet, sendok tanduk, sudip, kertas perkamen, timbangan beserta anak timbangan, pot plastic, dan etiket.
    Dalam pelaksanaan resep ini langkah pertama yang dilakukan adalah disiapkan alat dan bahan. Kemudian dilakukan penimbangan sesuai perhitungan Digerus aminophillin, laktosa, dan adeps lanaedi gerus hingga terbentuk massa pil. Setelah terbentuk massa pil, dibuat bentuk silinder dengan cara digulung-gulung pada papan kayu yang telah ditaburi talk, digulung hingga panjangnya sesuai dengan jumlah pil yang dibutuhkan lalu pil dipotong dengan pisau pemotong yang ada pada papan pil. Pil yang belum bulat digulung-gulungkan pada papan pil yang telah ditaburi talk, digulung hingga bulat. Setelah itu pil dimasukkan kedalam pot plastik dan diberi etiket putih karena digunakan secara oral.
    Namun pada proses pembuatan pil, pada saat sediaan ingin dibentuk silinder sediaan menjadi mudah pecah, tetapi setelah sediaan ditambahkan sedikit adeps lanae sediaan tersebut menjadi tidak pecah dan dapat dibentuk sesuai yang diinginkan.
   



RESEP 22
        Pada resep ini pil mempunyai khasiat sebagai anti asma. Pil ini diminum 2 x sehari 2 pil yaitu pada pagi dan sore hari. Disimpan ditempat sejuk, kering, dan terlindung dari cahaya matahari. Efek samping yaitu gangguan lambung, mual, dan muntah. Resep ini mengandung dua bahan obat yaitu zat aktif dan zat tambahan.
1. Zat aktif yang terkandung
a.    Permangat kalikus
    Mempunyai khasiat sebagai anti asma
2. Zat tambahan yang terkandung
a.    Vaselin album
    Mempunyai khasiat sebagai zat tambahan yaitu sebagai zat pengikat
b.    Bolus alba
    Mempunyai khasiat sebagai zat tambahan yaitu sebagai zat pengisi
c.    Talk
Sebagai zat tambahan yaitu sebagi zat penabur
    Dalam pelaksanaan resep keduapuluh dua  ini alat-alat yang diperlukan yaitu mortir, stemper, serbet, sendok tanduk, sudip, kertas perkamen, timbangan beserta anak timbangan, pot plastic, dan etiket.
    Dalam pelaksanaan resep ini langkah pertama yang dilakukan adalah menyiapkan alat dan bahan. Kemudian dilakukan penimbangan sesuai perhitungan. Digerus permanganat kalikus, vaselin album, dan bolus alba digerus hingga terbentuk massa pil. Setelah terbentuk massa pil, dibuat bentuk silinder dengan cara digulung-gulung pada papan kayu yang telah ditaburi talk, digulung hingga panjangnya sesuai dengan jumlah pil yang dibutuhkan lalu pil dipotong dengan pisau pemotong yang ada pada papan pil. Pil yang belum bulat digulung-gulungkan pada papan pil yang telah ditaburi talk, digulung hingga bulat. Setelah itu pil dimasukkan kedalam pot plastic dan diberi etiket putih karena digunakan secara oral.




BAB V
PENUTUP

1. Kesimpulan
Setelah melakukan praktikum dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
a.    Pada resep ke- 21 adalah hasil akhirnya berupa sediaan pil yang berwarna putih agak kekuningan. Pil dibuat sebanyak 20 pil yang berfungsi menyembuhkan asma bronkodilator dan sebagai obat antiasma.
b.    Pada resep ke- 22 adalah hasil akhirnya berupa sediaan pil berwarna ungu. Pil dibuat sebanyak 25 pil yang berkhasiat sebagai obat antiasma. Pada proses pembuatannya untuk iod kalikus tidak digunakan karena memiliki sifat yang sama seperti permanganat yaitu bersifat oksidator
2. Saran
    Agar praktikan lebih hati-hati dalam proses penggulungan, pemotongan dan pembulatan dalam pembuatan sediaan pil.

   
   
    DAFTAR PUSTAKA

Ansel, H.C. 1989. Pengantar bentuk sediaan farmasi ed.IV. Universitas Indonesia Press : Jakarta.
Dhanutirto, Haryanto. 2007. ISO Indonesia Volume 42. Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia : Jakarta.
Tjay, H. T. dan Rahardja, Kirana. 2003. Obat-Obat Penting ed. IV. Elex Media Komputindo : Jakarta.
Anief, Muhamad. 1987. Ilmu Meracik Obat. Gajah Mada University Press : Yogyakarta.
Anonim. 1979. Farmakope Indonesia ed.III. Depkes RI : Jakarta.
Anonim. 1995. Farmakope Indonesia ed.IV. Depkes RI : Jakarta.
Anonim. 1966. Formularium Indonesia. Depkes RI : Jakarta
Anonim. 1929. Pharmacope 5







Laporan pasta & Krim

BAB 1
PENDAHULUAN

1. Maksud Praktikum
    Adapun maksud dari praktikum farmasetika dasar ini yaitu :
a.    Agar dapat mengetahui proses pembuatan sediaan salep (unguenta) dan jenisnya yaitu pasta dan cream.
b.    Agar dapat terampil mengerjakan resep-resep sediaan salep (ungenta) dan jenisnya yaitu pasta dan cream.
I. 2 Tujuan praktikum
    Adapun tujuan praktikum ini yaitu :
1.    Dapat membuat sediaan salep dengan baik dan benar sesuai dengan prinsip kerja.
2.    Dapat mengetahui fungsi dari masing-masing salep, efek samping salep, serta memberikan informasi kepada pasien(edukasi)



BAB II
TINJAUAN PUSAKA

Menurut Farmakope Indonesia ed. III, salep adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar. Bahan obatnya harus larut atau terdispersi homogen dalam dasar salep yang cocok untuk mencapai hasil yang dimaksud harus memperhatikan peraturan-peraturan pembuatan salep. Seperti yang tertera pada FI ed. II.
Peraturan-peraturan pembuatan salep:
1.    Peraturan salep pertama
    Zat-zat yang dapat larut dalam campuran-campuran lemak, dilarutkan ke dalamnya, jika perlu dengan pemanasan
2.    Peraturan salep kedua
    Bahan-bahan yang dapat larut dalam air. Jika tidak ada peraturan-peraturan lain, dilarutkan lebih dahulu dalam air, asalkan jumlah air yang dipergunakan dapat diserap seluruhnya oleh basis salep : jumlah air yang dipakai dikurangi dari basis
3.    Peraturan salep ketiga
    Bahan-bahan yang sukar atau hanya sebagian yang dapat larut dalam lemak dan air harus diserbuk lebih dahulu, kemudian diayak dengan no. B40
4.    Peraturan salep keempat
    Salep-salep yang dibuat dengan cara mencairkan, campurannya harus digerus sampai dingin.

Penggolongan Salep
Menurut konsistensinya salep dibagi :
1)    Unguenta    : Salep yang mempunyai konsistensi seperti mentega tidak mencair pada suhu biasa, tetapi mudah dioleskan tanpa memakai tenaga
2)    Cream    : Suatu salep yang banyak mengandung air, mudah diserap kulit, suatu tipe yang dapat dicuci dengan air
3)    Pasta        : Suatu salep yang banyak megandung lebih dari 50 % zat padat (serbuk). Suatu salep tebal karena merupakan penutup/pelindung bagian kulit yang diberi
4)    Cerata    : Suatu salep berlemak yang mengandung persentase tinggi lilin (waxes), hingga konsentrasi lebih keras
5)    Gelones Spumae (Gel) : Suatu salep yang lebih halus umumnya cair dan sedikit mengandung atau tanpa mukosa, sebagai pelicin atau basis, biasanya terdiri dari campuran sederhana dari minyak dan lemak dari titik lebur yang rendah. Washable jelly mengandung mucilagines, misalnya : gom, tragakan, amylum.contoh : starch jellies (10 %) amylum dengan air mendidih
•    Menurut efek terapinya salep dibagi :
1)    Salep Epidermic
    Melindungi kulit dan menghasilkan efek local.
    Tidak diabsorpsi; kadang-kadang ditambahkan antiseptica, astringen, meredakan rangsangan.
    Dasar salep yang terbaik adalah senyawa hidrokarbon (vaselin)
2)    Salep Endodermic
    Salep dimana bahan obatnya menembus ke dalam, tetapi tidak melalui kulit, terabsorpsi sebagian.
    Untuk melunakkan kulit atau selaput lendir diberi local iritan
    Dasar salep yang baik adalah minyak lemak.
3)    Salep Diadermic
    Salep-salep supaya bahan-bahan obatnya menembus ke dalam melalui kulit dan mencapai efek yang diinginkan. Misalnya pada salep yang mengandung senyawa mercuri, yodida, belladonnae.
    Dasar salep yang baik adalah adeps lanae dan oleum cacao.
•    Menurut dasar salepnya salep dibagi :
1)    Salep hydropobic adalah salep-salep dengan bahan dasar berlemak.
    Misalnya : campuran dari lemak-lemak, minyk lemak, malam tak tercuci dengan air.
2)    Salep hydrophilic adalah salep yang kuat menarik air biasanya dasar salep tipe O/W atau seperti dasar salep tipe hydropobic tetapi konsistensinya lebih lembek kemungkinan juga dengan tipe W/O antara lain, campur sterol-sterol dan petrolatum.

Kualitas dasar salep yang baik ialah :
•    Stabil, selama dipakai harus bebas dari inkompatibilitas, tidak terpengaruhi oleh suhu dan kelembaban kamar.
•    Mudah dipakai
•    Dasar salep yang cocok
•    Dapat terdistribusi merata ( Ilmu Resep;49-54)
Uraian bahan yang sering dipakai sebagai dasar salep
1.    Vaselin, terdiri dari vaselin kuning dan vaselin putih.
Nama lain yang sering ditulis di dalambuku-buku Amerika dan Inggris ialah Petrolatum atau soft Paraffin.
White petrolatum= white soft paraffin= vaselin putih
Yellow petroletum= yellow soft paraffin= vaselin kuning
Vaselin putih adalah bentuk yang dimurnikan/dipucatkan warnanya. Dalam pemucatan digunakan asam sulfat, maka supaya hati-hati menggunakan vaselin putih untuk mata, akan terjadi iritasi mata oleh kelebihan asam yang dikandung kalau tidak dinetralkan dulu dengan KOH atau base lain.
Vaselin hanya dapat menyerap air sebanyak 5 %. Dengan penambahan surfaktan seperti Natriumlaurylsulfat, tween, maka akan mampu menyerap air lebih banyak, juga penambahan cholesterol span kemampuan mendukung air dapat dinaikkan.
2.    Jelene, Terdiri dari minyak hidrokarbon dan malam yang tersusun sedemikian hingga fase cair mudah bergerak dengan demikian terbentuk gerakan dalam, hingga difusi obat ke sekelilingnya dapat terjadi lebih baik.
Keuntungan pengguanaan jelene, dalam penyimpanan tetap dan cukup lunak. Jelene 50 W dikenal sebagai plastibase (Squibb)
    Tidak tercampurkan dengan Pix liquida, kamfer, mentol, gandapura, karena akan membuat jelene encer.
3.    Lanolin adalah adeps lanae yang mengandung air 25 %. Digunakan sebagai pelumas dan penutup kulit dan lebih muda dipakai (Anief, 2004)
Dasar salep menurut FI IV
1.    Dasar salep hidrokarbon
•    Juga disebut dasar salep berlemak
•    Hanya dapat bercampur dengan sejumlah kecil komponen berair
•    Dimasukkan untuk memperpanjang kontak bahan obat dengan kulit dan bertindak sebagai pembalut penutup
•    Digunakan sebagai emolien, sukar dicuci, tidak mengering, dan tidak tampak berubah dalam waktu lama.
•    Contoh : vaselin, paraffin cair, minyak nabati.
2.    Dasar salep serap
    Dibagi dalam 2 kelompok :
•    Dasar salep yang bercampur dengan air membentuk emulsi w/o. Contoh : lanolin anhidrat
•    Emulsi w/o yang dapat bercampur dengan sejumlah larutan air tambahan. Juga berfungsi sebagai emolien.
    Contoh : lanolin

3.    Dasar salep yang dapat dicuci dengan air
•    Dapat dicuci dengan air, cocok untuk dasar kosmetik
•    Beberapa bahan obat lebih efektif dengan dasar salep ini daripada salep hidrokarbon
•    Dapat diencerkan dengan air dan mudah menyerap cairan pada kelainan dermatologis
•    Contoh    : dasar salep emulsi o/w, emulsifying ointment BP
4.    Dasar salep larut air
•    Disebut juga dasar salep tak berlemak dan terdiri dari konstituen larut air
•    Keuntungan dapat dicuci dengan air dan tidak mengandung bahan yang tak larut air. Lebih tepat disebut gel
•    Contoh    : gom arab, PEG,  tragakan
Zat yang dapat dilarutkan dalam dasar salep
Umumnya kelarutan obat dalam minyak lemak lebih besar daripada dalam vaselin.
Camphora, mentholum, phenolum, thymolum, dan guayacolum lebih mudah dilarutkan dengan cara digerus dalam mortir dengan minyak lemak. Bila dasar salep mengandung vaaselin, maka zat-zat tersebut digerus halus dan ditambahkan sebagian (sama banyak) vaselin sampai homogen, baru ditambahkan sisa vaselin dan bagian dasar salep yang lain. Camphora dapat dihaluskan dengan tambahan spiritus fortior atau eter secukupnya sampai larut setelah itu ditambah dasar salep sedikit demi sedikit, diaduk sampai spiritus fortiornya menguap.
Bila zat-zat tersebut bersama-sama dalam dasar salep, lebih mudah dicampur dan digerus dulu biar meleleh baru ditambahkan dasar salep sedikit demi sedikit.
•    Hal-hal yang perlu diperhatikan :
a.    Jangan mengganti phenol dengan phenolum liquefactum, sebab phenol. Liq. Merupakan larutan air dalam phenol. Phenol yang dilarutkan dalam minyak, bekerja kurang merangsang kulit dibandingka dengan adanya air.
b.    Dalam unguentum methylis salicylas compositum, salicylas methylicus dapat dimanfaatkan untuk melarutkan menthol.
c.    Garam alkaloid mudah larut dalam air, sedangkan basenya mudah larut dalam minyak seperti ephedrine.
d.    Anthralinum dan chrysarobin dilarutkan dalam dasar salep dengan pemanasan di atas tangas air.
e.    Pellidol dilarutkan dulu dalam chloroform sama banyak, setelah itu dicampur dulu dengan bagian lain dasar salep, biarkan chloroform menguap dengan jalan salep diaduk-aduk sampai homogen. Bila mengandung minyak pellidol digerus dulu dengan minyak. Pellidol dapat larut dalam vaselin 1 % dan dalam minyak lemak 7 % dengan pamanasan.
f.    Cannabis indicae extr. Digerus dengan minyak akan segera larut. Bila harus dicampur dengan vaselin maka lebih dulu ditambah sedikit etanol 96 % digerus lalu ditambah sedikit demi sedikit vaselinnya.
g.    Beta neptholum dalam salep sering terdapat bersama sapo kalinus. Maka itu larutkan beta naphthol dalam sapo kalinus dulu dengan jalan digerus sama banyak baru dicampur dengan sisa sapo kalinus dan bagian lain. Ingat beta napthol untuk kulit ada dosis maksimum-nya, maka salep tersebut harus dibagi. (Anonim, 2004)



BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIKUM
RESEP 18

I. Resep asli/standar
    a. Resep asli   
        R/ Pasta Zinci Salycilata    10
               Adde
              Balsam peru             0.2
    b. Resep standar
               Pasta Zinci Salycilata
             R/Asam salisilat        2
    Sengoksida            25
    Pati singkong        25
    Vaselin kuning      ad    100    (Anonim, 1966)
II. Kelengkapan Resep
-    Paraf dokter tidak tertera
-    Alamat pasien tidak tertera
III. Penggolongan Obat
    O    :
    G    :
    W    :
    B    : Asam salisilat, seng oksida (Haryanto, 2007)
IV. Komposisi Bahan
    Dalam pasta mengandung  :
    1. Asam salisilat        0,2
    2. Sengoksida        2,5
    3. Pati singkong        2,5
    4. Vaselin kuning        4,8
    5. Balsam peru        0,2
V. Uraian Bahan   
    1. Asam salisilat
a.    Sinonom     : Acidum Salicylicum (Anonim, 1979)
b.    Khasiat     : Keratolitikum, Anti fungi
c.    Pemerian          : Hablur ringan tidak berwarna atau serbuk berwarna putih; hampir tidak berbau; rasa agak manis dan tajam
d.    Kelarutan          : Larut dalam 550 bagian air dan dalam 4 bagian etanol (95%) p; mudah larut dalam klorofom P; larut dalam larutan amonium aselat, dinatrium hidrogenfosfat P, kalium sitrat P, dan natrium sitrat P.
2. Sengoksida
a.    Sinonim    : Zinci Oxydum, ZnO     (Anonim, 1979)
b.    Khasiat    : Antiseptikum lokal
c.    Pemerian         : Serbuk amorf, sangat halus; putih atau putih kekuningan; tidak berbau; tidak berasa. Lambat laun menyerap karbondioksida dari udara.
d.    Kelarutan         : Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%)P; larut dalam asam mineral encer dan daloam larutan alkali hidroksida.
3. Pati singkong
a.    Sinonom    : Amylum Manihot (Anonim, 1979)
b.    Khasiat    : Zat tambahan, pengabsorbsi
c.    Pemerian           : Serbuk halus, kadang-kadang berupa gumpalan kecil; putih; tidak berbau; tidak berasa.
d.    Kelarutan         : Praktis tidak larut dalam air dingin dan etanol (95%)P.
4. Vaselin kuning
a.    Sinonim    : Vaselinum Flavum (Anonim, 1979)
b.    Khasiat    : Zat tambahan, sebagai dasar salep hidrokarbon
c.    Pemerian          : Massa lunak, lengket, bening, kuning muda sampai kuning; sifat ini tetap setelah zat dileburkan dan dibiarkan hingga dingin tanpa diaduk. Berflourensi lemah, juga jika dicairkan; tidak berbau; hampir tidk berasa.
d.    Kelarutan          : Memenuhi syarat yang tertera pada veselin album
5. Balsam Peru
a.    Sinonim    : Balsamum Peruvianum (Anonim, 1979)
b.    Khasiat    : Antiseptikum ekstern
c.    Pemerian         : Cairan kental, lengket tidakberserat; coklat tua, dalam lapisan tipis berwarna coklat, transparan kemerahan; bau aromatik khas menyerupai vanilin
d.    Pemerian          : Larut dalam kloroform P, sukar larut dalam eter P, dalam eter minyak tanah P dan dalam asam asetat gkasial P
VI. Penimbangan
    1. Asam salisilat        : 10/100 x 2    = 0,2 g = 200 mg
    2. Sengoksida        : 10/100 x 25    = 2,5 g = 2500 mg
    3. Pati singkong        : 10/100 x 25    = 2,5 g = 2500 mg
    4. Vaselin kuning        : 10/100 x 48    = 4,8 g = 4800 mg
    5. Balsam peru        : 0,2 g = 200 mg
VII. Cara kerja
1.    Disiapkan alat dan bahan
2.    Diayak sengoksida menggunakan ayakan 100 mesh
3.    Ditimbang bahan-bahan yang diperlukan sesuai perhitungan
4.    Digerus asam salisilat yang sudah ditetesi etanol (95%) digerus halus, ditambahkan pati singkong digerus halus, ditambahkan ½ vaselin kuning digerus hingga halus, ditambahkan ZnO gerus halus, ditambahkan sisa vaselin kuning digerus hingga halus dan yang terakhir ditambahkan balsam peru yang sudah ditetesi etanol (95%) gerus hingga halus dan homogen.
5.    Masukkan sediaan kedalam pot yang sebelumnya sudah ditimbang
6.    Dikemas dan diberi etiket biru
VIII. Penandaan
    Etiket biru

XI. Edukasi
1.    Pasta ini berkhasiat untuk membasmi mikroorganisme yang menyebabkan jamur, untuk mengobati luka, ekzema, dan kudis (Hoan Tjay, 2003)
2.    Pasta dioleskan dulu pada kain kassa sebelum dioleskan pada kulit
3.    Disimpan dalam wadah tertutuop baik, ditempat yang sejuk, kering dan terlindung dari cahaya matahari.





RESEP 19

I. Resep Asli / standar
    a. Resep Asli
    R/  Menthol
        Champora            aa 0,2
             Balsamum album        ad 5
    b. Resep standar
        Balsamum album
    R/  Oleum menthae piperitae    60
        Parrafinum solidum        25
        Vaselinum album        ad 100    (FMS, 51)
II. Kelengkapan resep
-    Paraf dokter tidak tertera
-    Alamat pasien tidak tertera
-    Umur pasien tidak tertera
III. Penggolongan Obat
    O    :
    G    :
    W    :
     B    : Menthol, champora, paraffinum solidum (Haryanto, 2007)
IV. Komposisi Bahan
    Dalam salep mengandung :
    1. Menthol                0,2
    2. Champora            0,2
    3. Oleum menthae piperitae    2,76
    4. Paraffinum solidum        1,15
    5. Vaselin album            0,69
V. Uraian Bahan
    1. Menthol
a.     Sinonim    : Mentholum (Anonim, 1979)
b.     Khasiat    : Korigen; antiiritan
c.     Pemerian        : Hablur berbentuk jarum atau prusma; tidak berwarna; bau tajam seperti minyak permen; rasa panas dan aromatik diikuti rasa dingin.
d.     Kelarutan        : Sukar larut dalam air, sangat mudah larut alam etanol (95%)P, dalam kloroform P dan dalam eter P; mudah larut dalam paraffin cair P dan dalam minyak atsiri.
    2. Champora
a.     Sinonim    : Kamfer (Anonim, 1979)
b.     Khasiat    : Antiiritan
c.     Pemerian        : Hablur putih atau massa hablur; tidak berwarna atau putih; bau khas, tajam; rasa pedas dan aromatik
d.     Kelarutan          : Larut dalam 700 bagian air, dalam 1 bagian etanol (95%)P, dan 0,25 bagian kloroform P; sangat mudah larut dalam eter P; mudah larut dalam minyak lemak
3.     Oleum menthae piperitae
a.     Sinonim    : Minyak permen (Anonim, 1979)
b.     Khasiat    : Zat tambahan; karminativum
c.     Pemerian        : Cairan, tidak berwarna, kuning pucat atau kuning kehijauan, bau aromatik, rasa pedas dan hangat, kemudian dingin.
d. Kelarutan       : Dlam etanol larut dalam 4 bagian volume (70%)P opalesensi yang terjadi tidak lebih kuat dari opalesensi larutan yang dibuat dengan menambahkan 0,5 ml perak nitrat 0,1 N pada campuran 0,5 ml natrium klorida 0,2 N dan 50 ml air
4. Paraffinum Solidum
a.     Sinonom    : Parafin padat     (Anonim, 1979)
b.     Khasiat    : Zat tambahan; dasar salep
c.     Pemerian          : Padat, sering menunjukkan susunan hablur; agak lian; tidak berwarna atau putih; tidak mempunyai rasa. Jika dileburkan menghasilkan cairan yang tidak bervlourensi
d.     Kelarutan      : Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%)P; larut dalam kloroform P. Suhu lebur 50 sampai 70 derajat.
5. Vaselin album
a.     Sinonim          : Vaselin putih (Anonim, 1979)
b.     Khasiat           : Zat tambahan; dasar salep hidrokarbon
c.     Pemerian           : Massa lunak, lengket, bening, putih; sifat ini tetap setelah zat dileburkan dan dibiarkan hingga dingin tanpa diaduk. Berflourensi lemah, juga jika dicairkan; tidak berbau; hampir tidk berasa.
d.     Kelarutan           : Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%)P; larut dalam kloroform P, dalam eter P dan dalam eter minyak P, larutan kadang-kadang berapalesensi lemah.
VI. Penimbangan
    1. Menthol        : 0,2 g       
    2. Champora        : 0,2 g       
    3. Oleum menthae    : 4,6/100 x 60    = 2,76 g
    4. Paraffin padat    : 4,6/100 x 25    = 1,15 g
    5. Vaselin putih    : 4,6/100 x 15    = 0,69 g

VII. Cara Kerja
1.    Disiapkan alat dan bahan
2.    Ditimbang bahan-bahan yang diperlukan sesuai dengan perhitungan
3.    Dilebur parafin padat dan vaselin putih dalam cawan porselen, dilebur diatas  tangas air hingga meleleh
4.    Digerus menthol dan champora hingga mencair
5.    Dimasukkan hasil leburan kedalam campuran no (4), digerus hingga homogen dan tunggu sampai dingin,  lalu ditambahkan oleum menthae digerus hingga homogen hingga sediaan menjadi setengah padat.
6.    Masukkan sediaan kedalam pot yang sebelumnya sudah ditimbang.
7.    Dikemas dan diberi etiket biru
VIII. Penandaan
Etiket biru

IX. Edukasi
1.    Salep ini berkhasiat sebagai antiiritan
2.    Salep dioleskan pada kulit yang terinfeksi
3.    Disimpan dalam wadah tertutuop baik, ditempat yang sejuk, kering dan terlindung dari cahaya matahari.


RESEP 20
I.    Resep asli/standart
a.    Resep asli
R/     Stearic acid        3
    Mineral oil            1,1
    TEA            0,75
    Methyl paraben        qs
    Propyl paraben        qs
    Oil rosae            qs
    Aqua            41,4
II.    Kelengkapan Resep
- Paraf dokter tidak tertera
- Alamat pasien tidak tertera
- Umur pasien tidak tertera
III. Penggolongan Obat
        O    :
        G    :
        W    :
B    : Asam stearat (Haryanto, 2007)
IV. Komposisi Bahan
    Dalam hand cream mengandung :
    1. Stearic acid        3
    2. Mineral oil        1,1
    3. TEA            0,75
    4. Methyl paraben    55,5 mg
    5. Propyl paraben    9,25 mg
    6. Oil rosae        1 tetes
    7. Aqua            41,4
V. Uraian bahan
1. Stearic acid
a.    Sinonim    : Acidum Stearicum, asam stearat (Anonim, 1979)
b.    Khasiat    :  Zat tambahan sebagai emulgator
c.    Pemerian          : Zat padat keras mengkilat menunjukkan susunan hablur; putih atau kuning pucat; mirip lemak lilin.
d.    Kelaritan           : Praktis tidak larut dalam air; larut dalam 20 bagian etanol (95%)P, dalam 2 bagian kloroform P dan dalam 3 bagian eter P.
    2. Mineral Oil
a.    Sinonim    : Oleum mineral, minyak mineral (Anonim, 1979)
b.    Khasiat    : -
c.    Pemerian            : Cairan berminyak, jernih tidak berwarna, bebas atau praktis bebas dari flouresensi dalam keadaan dingin tidak berbau, tidak berasa dan jika dipanaskan berbau minyak tanah lemah.
d.    Kelarutan            : Tidak larut dalam air dan dalam etanol, larut dalam minyak menguap, dapat bercampur dengan minyak lemak, tidak bercampur dengan minyak jarak.
3.     TEA
a.    Sinonim    : Triaethanolaninum, trietanolamina (Anonim, 1979)
b.    Khasiat    : Zat tambahan; emulgator tipe o/w
c.    Pemerian         : Cairan kental; tidak berwarna hingga kuning pucat; bau lemah mirip amoniak; higroskopik
d.    Kelaruan              : Mudah larut dalam air dan etanol (95%)P; larut dalam kloroform P.
4.     Methyl paraben
a.    Sinonim    : Methyus parabenum, nipagin (Anonim, 1979)
b.    Khasiat    : Zat tambahan, zat pengaet
c.    Pemerian              : Serbuk hablur halus; putih; hampir tidak berbau; tidak mempunyai rasa; kemudian agak membakar diikuti rasa tebal.
d.    Kelarutan    : Larut dalam 500 bagian air, dalam 20 bagian air mendidih, dalam 3,5 bagian etanol (95%)P dan dalam 3 bagian aseton P; mudah larut dalam eter P dan dalam larutan alkali hidroksida; larut dalam 60 bagian gliserol P panas dan dalam 40 bagian minyak lemak nabati panas, jika didinginkan larutan tetap jernih.
5.     Prophyl Paraben
a.    Sinonim    : Propyus parabenum, nipasol (Anonim, 1979)
b.    Khasiat    : Zat pengawet
c.    Pemerian    : Serbuk hablur putih; tidak berbau; tidak berasa.
d.    Kelarutan           : Sangat sukar larut dalam air; larut dalam 3,5 bagian etanol (95%)P, dalam 3 bagian aseton P, dalam 140 bagian gliserol P, dan dalam 40 bagian minyak lemak, mudah larut dalam larutan alkali hidroksida.
6.     Oil rosae
a.    Sinonim    : Minyak lemak (Anonim, 1979)
b.    Khasiat    : Zat tambahan; pengaroma
c.    Pemerian            : Cairan; tidak berwarna atau kuning; bau menyerupai bunga mawar, rasa khas; pada suhu 25 derajat kental, jika didinginkan perlahan-lahan berubah menjadi massa hablur bening yang jika dipanaskan melebur.
d.    Kelarutan    : Larut dalam 1 bagian kloroform P, larutan jernih.
7.     Aqua destillata
a.    Sinonim    : Air suling (Anonim, 1979)
b.    Khasiat    : Sebagai zat pembasah
c.    Pemerian       : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa.
VI. Penimbangan
1. Stearic acid        = 3g = 3000 mg
2. Mineral oil        = 1,1 = 1100 mg
3. TEA            = 0,75 = 750 mg
4. Methyl paraben        = 0,12% x (3+1,1+0,75+41,4) = 55,5 mg
5. Propyl paraben        = 0,02% x (3+1,1+0,75+41,4) = 9,25 mg
6. Oil rosae            = 1 tetes
VII. Penimbangan
1.    Disiapkan alat dan bahan
2.    Ditimbang bahan-bahan yang diperlukan sesuai dengan perhitungan
3.    Dipanaskan mortir dan stemper dengan air panas hingga dinding mortir terasa panas, lalu buang airnya kemudian dilap mortir dan stemper hingga kering
4.    Dibuat fase minyak dengan cara dilebur asam stearat, mineral oil, dan propil paraben kedalam cawan porselen, lebur hingga meleleh
5.    Dibuat fase air dengan cara dimasukkan air panas  kedalam erlenmeyer, ditambahkan methyl paraben dan TEA, kocok hingga larut dan homogen
6.    Masukkan fase minyak kedalam mortir yang telah panas, di tambahkan fase air sedikit-sedikit, digerus cepat hingga terbentuk cream, setelah dingin ditetesi oleum rosae dan digerus hingga homogen
7.    Sediaan dimasukkan kedalam pot yang sebelumnya sudah ditimbang
8.    Diberi etiket biru.
VIII. Penandaan
Etiket biru





XI. Edukasi
1.    Cream ini berfungsi sebagai hand cream
2.    Cream dioleskan pada kulit
3.    Disimpan ditempat yang sejuk, kering, tertutup rapat dan terlindung dari cahaya matahari langsung






BAB IV
PEMBAHASAN
RESEP 18
    Pada resep ini salep mempunyai khasiat sebagai membasmi mikroorganisme pada kulit yang kebetulan berada di permukaan kulit dan dioleskan pada permukaan kulit. Resep ini mengandung dua bahan obat yaitu zat aktif dan zat tambahan.
1. Zat aktif yang terkandung
a.    Asam Salisilat
Mempunyai khasiat sebagai keratolitikum yaitu dapat melarutkan lapisan tanduk kulit pada konsentrasi  5-10 %, dan berkhasiat sebagai anti fungi yaitu fungsid terhadap banyak fungi pada konsentrasi 3-6 % dalam salep.
b.    Balsam Peru
Mempunyai khasiat sebagai antiseptikum ekstern yaitu mikrobisida yang luas terhadap kuman,jamur,dan spuranya,ragi,virus,serta protozoa.
    c.    Zink oksida
Mempunyai khasiat sebagai antiseptikum yaitu membasmi mikroorganisme yang kebetulan berada di permukaan kulit, dan untuk membersihkan luka di tempat infeksi
2. Zat tambahan yang terkandung
a.    Vaselin kuning
Mempunyai khasiat sebagai zat tambahan yaitu sebagai dasar salep
     
     b.    Pati singkong
        Mempunyai khasiat sebagai zat tambahan yaitu sebagai zat pengabsorpsi
    Dalam pelaksanaan resep kedelapanbelas ini alat-alat yang diperlukan yaitu mortir, stemper, serbet, sendok tanduk, sudip, kertas perkamen,timbangan beserta anak timbangan, kayu penjepit, pot plastic, cawan porselen, pipet tetes, biji gotri,  dan etiket.
    Dalam pelaksanaan resep ini langkah pertama yang dilakukan adalah disiapkan alat dan bahan kemudian diayak ZnO dengan ayakan no. 100, ZnO diayak agar halus dan bebas dari butiran kasar. Lalu dilakukan penimbangan bahan. Kemudian digerus asam salisilat dan ditetesi dengan etanol 95 % pemberian etanol ini untuk melarutkan asam salisilat, digerus hingga halus, lalu dimasukkan pati singkong dan sebagian vaselin kuning digerus hingga halus dan homogen. Setelah itu dimasukkan ZnO yang sudah diayak dan ditambahkan sisa vaselin kuning, digerus hingga homogen. Dan yang terakhir ditambahkan balsam peru yang sudah ditetesi etanol 95 % gerus hingga halus dan homogen, sampai sediaan setengah padat. Sediaan dimasukkan ke dalam pot plastic yang sebelumnya sudah ditimbang, dan setelah dimasukkan ke dalam pot ditimbang lagi untuk mengetahui netto sediaan. Diberi etiket biru yang dimaksudkan untuk pemakaian luar. Simpanlah pasta ini ditempat yang sejuk dan terlindung dari cahaya matahari. Hentikan pemakaian jika terjadi iritasi pada kulit.



RESEP 19
    Pada resep ini salep mempunyai khasiat sebagai antiiritan dan digunakan pada bagian yang sakit. Resep ini mengandung dua bahan obat yaitu zat aktif dan zat tambahan.
1. Zat aktif yang terkandung
a.    Menthol
Berfungsi sebagai korigen dan antiiritan
b.    Camphora
Berfungsi sebagai antiiritan
2.  Zat tambahan yang terkandung
a.    Oleum menthae
Berfungsi sebagai karminativum
b.    Paraffin padat
Berfungsi sebagai dasar salep
c.    Vaselin album
    Berfungsi sebagai dasar salep hidrokarbon
    Dalam pelaksanaan resep kesembilanbelas ini alat-alat yang diperlukan yaitu mortir, stemper, serbet, sendok tanduk, sudip, kertas perkamen,timbangan beserta anak timbangan, kayu penjepit, pot plastic, cawan porselen, pipet tetes, biji gotri,  dan etiket.
    Dalam pembuatan sediaan ini yang pertama dilakukan oleh praktikan adalah menyiapkan alat dan bahan, kemudian dilakukan penimbangan bahan. Lalu parafin padat dan vaselin album dileburkan diatas tangas air agar bahan tersebut mancair dan tercampur homogen sebagai dasar salep. Kemudian menthol dan campora digerus secara bersamaan karena memiliki titik lebur rendah atau eutectikum. Dimasukkan hasil leburan ke dalam mortir yang telah berisi menthol dan campora yang sudah digerus tadi, digerus campuran tersebut hingga halus dan homogen dan ditunggu hingga dingin, lalu ditambahkan oleum menthae dan digerus hingga homogen. Oleum menthae dimasukkan terakhir karena jika digerus terlalu lama damarnya akan keluar. Sediaan dimasukkan ke dalam pot plastic yang sebelumnya sudah ditimbang, dan setelah dimasukkan ke dalam pot ditimbang lagi untuk mengetahui netto sediaan. Diberi etiket biru yang dimaksudkan untuk pemakaian luar. Pasta disimpan di tempat yang sejuk dan terlindung dari cahaya matahari. Hentikan pemakaian jika terjadi iritasi pada kulit.
Pada hasil sediaan saya terjadi kesalahan yaitu nettonya hanya sedikit karena oleum menthae yang seharusnya dicampurkan terakhir, termasukkan ke dalam fase minyak.









RESEP 20
    Pada resep ini praktikan membuat sediaan yang berkhasiat sebagai cream tangan. Cream adalah sediaan ½ padat berupa emulsi kental yang mengandung tidak kurang dari 60 % air.
    Dalam pembuatan sediaan ini terdapat beberapa komposisi bahan, yaitu :
a.    Asam stearat
    Berfungsi sebagai zat tambahan yaitu sebagai emulgator
b.    Mineral oil
c.    Aqua destillata
    Berfungsi sebagai zat pembasah
d.    Ol. Rosae
    Berfungsi sebagai zat tambahan dan pengaroma
e.    Propil paraben
    Berfungsi sebagai zat tambahan dan zat pengawet
f.    Metil paraben
    Berfungsi sebagai zat tambahan dan zat pengawet
g.    TEA
    Berfungsi sebagai zat tambahan yaitu sebagai emulgator tipe o/w
    Dalam pelaksanaan resep keduapuluh ini alat-alat yang diperlukan yaitu mortir, stemper, serbet, sendok tanduk, sudip, kertas perkamen,timbangan beserta anak timbangan, kayu penjepit, pot plastic, cawan porselen, pipet tetes, biji gotri,  dan etiket.
    Dalam pembuatan sediaan ini yang pertama dilakukan oleh praktikan adalah disiapkan alat dan bahan, kemudian dilakukan penimbangan bahan. Lalu dipanaskan mortir dan stemper dengan air panas. Setelah itu dibuat fase minyak dengan meleburkan asam stearat, mineral oil, dan propil paraben di atas tangas air. Lalu dibuat fase air dengan melarutkan metil paraben dan TEA ke dalam air panas pada erlenmeyer. Kemudian dicampurkan hasil fase air dan fase minyak ke dalam mortir, digerus cepat hingga terbentuk cream. Setelah dingin diteteskan oleum rosae sebanyak 1 tetes, dan gerus hingga homogen. Oleum rosae dimasukkan terakhir agar tidak menguap jika digerus terlalu lama. Sediaan dimasukkan ke dalam pot plastic yang sebelumnya sudah ditimbang, dan setelah dimasukkan ke dalam pot ditimbang lagi untuk mengetahui netto sediaan. Diberi etiket biru yang dimaksudkan untuk pemakaian luar. Simpanlah pasta ini ditempat yang sejuk dan terlindung dari cahaya matahari. Hentikan pemakaian jika terjadi iritasi pada kulit.
Pada hasil sediaan saya terjadi kesalahan yaitu cream yang terbentuk berbusa dan mengembang dikarenakan menggerus terlalu lama dan terlalu cepat dan kemungkinan karena asam stearat yang berlebih.







BAB V
PENUTUP
1. Kesimpulan
Setelah melakukan praktikum dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
a.    Pada resep ke-18 adalah hasil akhirnya berupa sediaan pasta yang berwarna kuning kecoklatan. Mempunyai khasiat membasmi mikroorganisme pada kulit yang kebetulan berada di permukaan kulit Yang pada proses pembuatannya untuk ZnO harus diayak, dan untuk asam salisilat dan balsam peru ditetesi dengan etanol.
b.    Pada resep ke-19 adalah hasil akhirnya berupa sediaan salep berwarna putih. Mempunyai khasiat sebagai antiiritan. Yang pada proses pembuatannya untuk menthol dan campora digerus bersamaan karena memiliki titik eutectikum.
c.    Pada resep ke-20 adalah hasil akhirnya berupa cream berwarna putih. Dan memiliki khasiat sebagai krim tangan. Yang cara pembuatannya mortir dan stemper dipanaskan terlebih dahulu dengan air panas dan setelah fase minyak dan fase air dicampurkan  harus diaduk dengan cepat hingga terbentuk cream.
2. Saran
    Agar praktikan lebih teliti dalam membuat fase air dan fase minyak sehingga bahan-bahannya tidak tertukar atau tertinggal pada pelaksanaan fase tersebut.


    DAFTAR PUSTAKA

Ansel,H.C. 1989. Pengantar bentuk sediaan farmasi ed.IV. Universitas Indonesia Press : Jakarta
Dhanutirto, Haryanto. 2007. ISO Indonesia Volume 42. Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia : Jakarta
Tjay, H. T. dan Rahardja, Kirana. 2003 Obat-Obat Penting ed. IV. Elex Media Komputindo : Jakarta.
Anief,Muhamad. 1987. Ilmu Meracik Obat. Gajah Mada University Press : Yogyakarta.
Anonim. 1979. Farmakope Indonesia ed.III. Depkes RI : Jakarta.
Anonim. 1995. Farmakope Indonesia ed.IV. Depkes RI : Jakarta.
Anonim. 1979. Farmakope Indonesia ed.V. Depkes RI : Jakarta.
Anonim. 1966. Formularium Indonesia. Depkes RI : Jakarta


Laporan Salep

BAB 1
PENDAHULUAN

1. Maksud Praktikum
    Adapun maksud dari praktikum farmasetika dasar ini yaitu :
a.    Agar dapat mengetahui proses pembuatan sediaan salep (unguenta)
b.    Agar dapat terampil mengerjakan resep-resep sediaan salep (ungenta)

2. Tujuan praktikum
    Adapun tujuan praktikum ini yaitu :
1.    Dapat membuat sediaan salep dengan baik dan benar sesuai dengan prinsip kerja.
2.    Dapat mengetahui fungsi dari masing-masing salep, efek samping salep, serta memberikan informasi kepada pasien (edukasi)



BAB II
TINJAUAN PUSAKA
Menurut Farmakope Indonesia ed. III, salep adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar. Bahan obatnya harus larut atau terdispersi homogen dalam dasar salep yang cocok untuk mencapai hasil yang dimaksud harus memperhatikan peraturan-peraturan pembuatan salep. Seperti yang tertera pada FI ed. III.
Peraturan-peraturan pembuatan salep:
1.    Peraturan salep pertama
Zat-zat yang dapat larut dalam campuran-campuran lemak, dilarutkan ke dalamnya, jika perlu dengan pemanasan
2.    Peraturan salep kedua
Bahan-bahan yang dapat larut dalam air. Jika tidak ada peraturan-peraturan lain, dilarutkan lebih dahulu dalam air, asalkan jumlah air yang dipergunakan dapat diserap seluruhnya oleh basis salep : jumlah air yang dipakai dikurangi dari basis
3.    Peraturan salep ketiga
Bahan-bahan yang sukar atau hanya sebagian yang dapat larut dalam lemak dan air harus diserbuk lebih dahulu, kemudian diayak dengan no. B40
4.    Peraturan salep keempat
Salep-salep yang dibuat dengan cara mencairkan, campurannya harus digerus sampai dingin
Penggolongan Salep
•    Menurut konsistensinya salep dibagi :
1)    Unguenta    : Salep yang mempunyai konsistensi seperti mentega tidak mencair pada suhu biasa, tetapi mudah dioleskan tanpa memakai tenaga
2)    Cream    : Suatu salep yang banyak mengandung air, mudah diserap kulit, suatu tipe yang dapat dicuci dengan air
3)    Pasta    : Suatu salep yang banyak megandung lebih dari 50 % zat padat (serbuk). Suatu salep tebal karena merupakan penutup/pelindung bagian kulit yang diberi
4)    Cerata    : Suatu salep berlemak yang mengandung persentase tinggi lilin (waxes), hingga konsentrasi lebih keras
5)    Gelones Spumae (Gel) :  suatu salep yang lebih halus umumnya cair dan sedikit mengandung atau tanpa mukosa, sebagai pelicin atau basis, biasanya terdiri dari campuran sederhana dari minyak dan lemak dari titik lebur yang rendah. Washable jelly mengandung mucilagines, misalnya : gom, tragakan, amylum.contoh : starch jellies (10 %) amylum dengan air mendidih
•    Menurut efek terapinya salep dibagi :
1)    Salep Epidermic
    Melindungi kulit dan menghasilkan efek local.
    Tidak diabsorpsi; kadang-kadang ditambahkan antiseptica, astringen, meredakan rangsangan.
    Dasar salep yang terbaik adalah senyawa hidrokarbon (vaselin)
2)    Salep Endodermic
    Salep dimana bahan obatnya menembus ke dalam, tetapi tidak melalui kulit, terabsorpsi sebagian.
    Untuk melunakkan kulit atau selaput lendir diberi local iritan
    Dasar salep yang baik adalah minyak lemak.
3)    Salep Diadermic
    Salep-salep supaya bahan-bahan obatnya menembus ke dalam melalui kulit dan mencapai efek yang diinginkan. Misalnya pada salep yang mengandung senyawa mercuri, yodida, belladonnae.
    Dasar salep yang baik adalah adeps lanae dan oleum cacao.
•    Menurut dasar salepnya salep dibagi :
1)    Salep hydropobic adalah salep-salep dengan bahan dasar berlemak.
Misalnya : campuran dari lemak-lemak, minyk lemak, malam tak tercuci dengan air.
2)    Salep hydrophilic adalah salep yang kuat menarik air biasanya dasar salep tipe O/W atau seperti dasar salep tipe hydropobic tetapi konsistensinya lebih lembek kemungkinan juga dengan tipe W/O antara lain, campur sterol-sterol dan petrolatum.


Kualitas dasar salep yang baik ialah :
•    Stabil, selama dipakai harus bebas dari inkompatibilitas, tidak terpengaruhi oleh suhu dan kelembaban kamar.
•    Mudah dipakai
•    Dasar salep yang cocok
•    Dapat terdistribusi merata ( Ilmu Resep;49-54)
Uraian bahan yang sering dipakai sebagai dasar salep
1.    Vaselin, terdiri dari vaselin kuning dan vaselin putih.
Nama lain yang sering ditulis di dalambuku-buku Amerika dan Inggris ialah Petrolatum atau soft Paraffin.
White petrolatum= white soft paraffin= vaselin putih
Yellow petroletum= yellow soft paraffin= vaselin kuning
Vaselin putih adalah bentuk yang dimurnikan/dipucatkan warnanya. Dalam pemucatan digunakan asam sulfat, maka supaya hati-hati menggunakan vaselin putih untuk mata, akan terjadi iritasi mata oleh kelebihan asam yang dikandung kalau tidak dinetralkan dulu dengan KOH atau base lain.
Vaselin hanya dapat menyerap air sebanyak 5 %. Dengan penambahan surfaktan seperti Natriumlaurylsulfat, tween, maka akan mampu menyerap air lebih banyak, juga penambahan cholesterol span kemampuan mendukung air dapat dinaikkan.
2.    Jelene, Terdiri dari minyak hidrokarbon dan malam yang tersusun sedemikian hingga fase cair mudah bergerak dengan demikian terbentuk gerakan dalam, hingga difusi obat ke sekelilingnya dapat terjadi lebih baik.
Keuntungan pengguanaan jelene, dalam penyimpanan tetap dan cukup lunak. Jelene 50 W dikenal sebagai plastibase (Squibb)
    Tidak tercampurkan dengan Pix liquida, kamfer, mentol, gandapura, karena akan membuat jelene encer.
3.    Lanolin adalah adeps lanae yang mengandung air 25 %. Digunakan sebagai pelumas dan penutup kulit dan lebih muda dipakai (Anief, 2004)
Dasar salep menurut FI IV
1.    Dasar salep hidrokarbon
•    Juga disebut dasar salep berlemak
•    Hanya dapat bercampur dengan sejumlah kecil komponen berair
•    Dimasukkan untuk memperpanjang kontak bahan obat dengan kulit dan bertindak sebagai pembalut penutup
•    Digunakan sebagai emolien, sukar dicuci, tidak mengering, dan tidak tampak berubah dalam waktu lama.
•    Contoh : vaselin, paraffin cair, minyak nabati.
2.    Dasar salep serap
    Dibagi dalam 2 kelompok :
•    Dasar salep yang bercampur dengan air membentuk emulsi w/o. Contoh : lanolin anhidrat
•    Emulsi w/o yang dapat bercampur dengan sejumlah larutan air tambahan. Juga berfungsi sebagai emolien.
    Contoh : lanolin

3.    Dasar salep yang dapat dicuci dengan air
•    Dapat dicuci dengan air, cocok untuk dasar kosmetik
•    Beberapa bahan obat lebih efektif dengan dasar salep ini daripada salep hidrokarbon
•    Dapat diencerkan dengan air dan mudah menyerap cairan pada kelainan dermatologis
•    Contoh    : dasar salep emulsi o/w, emulsifying ointment BP
4.    Dasar salep larut air
•    Disebut juga dasar salep tak berlemak dan terdiri dari konstituen larut air
•    Keuntungan dapat dicuci dengan air dan tidak mengandung bahan yang tak larut air. Lebih tepat disebut gel
•    Contoh    : gom arab, PEG,  tragakan




BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIKUM

RESEP 12
I.    Resep Asli/ Standar
A. Resep Standar
R/  Unguentum 2-4 (sulfur salicylatum) (Anonim, 1966)
    Asam salisilat    2
    Belerang endap    4
    Vaselin        94
    Unguentum peruvianum (Anonim, 1966)
    Balsam peru    3
    Vaselin kuning    27
    B. Kelengkapan Resep
        - Paraf dokter tidak tertera
    C. Penggolongan Obat
        O    :
        G    :
        W    :
        B    : Asam alisilat, belerang endap, balsam peru (Haryanto, 2007)
    D. Komposisi Bahan
        Asam salisilat        0,2
        Belerang endap    0,4
        Vaselin        9,4
        Balsam peru        1
        Vaselin kuning    9
II. Uraian Bahan
1.    Asam Salisilat
a.    Sinonim    : Acidum salicylicum (Anonim, 1979)
b.    Khasiat    : Keratolitikum, anti fungi
c.    Pemerian    : Hablur ringan tidak berwarna atau serbuk berwarna putih;
hampir tidak berbau; rasa agak manis dan tajam
d.    Kelarutan    : Larut dalam 550 bagian air dan dalam 4 bagian etanol (95%) P; mudah larut dalam kloroform P dan dalam eter P; larut dalam ammonium asetat P, dinatrium hidrogenfospat P, kalium sitrat P dan natriumsitrat P
2.    Belerang Endap
a.    Sinonim    : Sulfur praecipitatum (Anonim, 1979)
b.    Khasiat    : Antiskabies
c.    Pemerian    : Tidak berbau; tidak berasa
d.    Kelarutan    : Praktis tidak larut dalam air; sangat mudah larut dalam karbondisulfida P; sukar larut dalam minyak zaitun P, sangat sukar larut dalam etanol (95%) P
3.    Vaselin Putih
a.    Sinonim    : Vaselinum album (Anonim, 1979)
b.    Khasiat    : Zat tambahan; dasar salep
c.    Pemerian    : Massa lunak, lengket, bening, putih; sifat ini tetap setelah   zat dileburkan dan dibiarkan hingga dingin tanpa diaduk. Berfluoresensi lemah, juga jika dicairkan; tidak berbau; hampir tidak berasa.
d.    Kelarutan    : praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%) P; larut dalam kloroform P; dalam eter P dan dalam eter minyak tanah P, larutan kadang-kadang beropalesensi lemah.
4.    Balsam Peru
a.    Sinonim    : Balsamum peruvianum (Anonim, 1979)
b.    Khasiat    : Antiseptikum ekstern
c.    Pemerian    : Cairan kental, lengket tidak bersekat; coklat tua, dalam lapisan tipis berwarna coklat, transparan kemerahan; bau aromatic khas menyerupai vanillin
d.    Kelarutan    : Larut dalam kloroform P; sukar larut dalam eter P, dalam eter minyaktanah P dan dalam asam asetatglasial P. Dalam etanol (90%) P Campur 1 bagian volume dengan 1 volume bagian etanol (90%) P; terjaddengi larutan jernih yang dengan penambahan 2 bagian volume etanol (90%) P, larutan menjadi keruh.
5.    Vaselin Kuning
a.    Sinonim    : Vaselinum flavum (Anonim, 1979)
b.    Khasiat    : Zat tambahan; dasar salep
c.    Pemerian    : Massa lunak, lengket, bening, kuning muda sampai kuning; sifat ini tetap setelah   zat dileburkan dan dibiarkan hingga dingin tanpa diaduk. Berfluoresensi lemah, juga jika dicairkan; tidak berbau; hampir tidak berasa.
d.    Kelarutan    : Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%) P; larut dalam kloroform P; dalam eter P dan dalam eter minyak tanah P, larutan kadang-kadang beropalesensi lemah.
III. Penimbangan
    1. Asam Salisilat        : 10/100 x 2    = 0,2 g
    2. Belerang Endap        : 10/100 x 4    = 0,4 g
    3. Vaselin Putih        : 10/100 x 94    = 9,4 g
    4. Balsam Peru        : 10/30 x 3    = 1 g
    5. Vaselin Kuning        :10/30 x 27    = 9 g
IV. Cara Kerja
1.    Disiapkan alat dan bahan
2.    Ditimbang bahan-bahan yang diperlukan sesuai penimbangan
3.    Asam salisilat ditetesi etanol 95 %, lalu ditambahkan belerang digerus hingga halus dan homogen, disisihkan
4.    Digerus sebagian vaselin kuning, kemudian ditambahkan campuran (3) sedikit-sedikit, dan ditambahkan sisa vaselin kuning, digerus hingga halus dan homogen.
5.    Ditambahkan balsam peru yang sudah ditetesi etanol 95 % , digerus hingga halus dan homogen
6.    Salep dikemas ke dalam pot yang telah ditimbang sebelumnya dan ditimbang berat pot yang telah diisi salep untuk mengetahui bobot bersihnya
7.    Diberi etiket biru
VI. Penandaan
Etiket biru

VII. Edukasi
1.    Obat ini berkhasiat sebagai obat anti jamur pada kulit
2.    Obat ini digunakan pada bagian yang sakit
3.    Simpan di tempat  yang kering dan terlindung cahaya



RESEP 13
   
I.    Resep Asli/ Standar
A. Resep Standar
    R/    Kampora Spirinsa (kampora solution spiritu)     (Anonim, 1966)
        Kamper        10
        Etanol (70 %)        100
        Ungt. Acidi Boric    (CMN,178)
        Acid boric        5
        Vaselin flavum    45
    B. Kelengkapan Resep
        - Paraf dokter tidak tertera
    C. Penggolongan Obat
        O    :
        G    :
        W    :
        B    : Kamper, acid boric (Haryanto, 2007)
    D. Komposisi Bahan
        Kamfer        1 g
        Etanol            11,4 ml
        Acid boric        1 g
        Vaselin flavum    9 g
II. Uraian Bahan
    1. Kamper
a.    Sinonim    : Camphora (Anonim, 1979)
b.    Khasiat    : Antiiritan
c.    Pemerian    : Hablur putih atau massa hablur; tidak berwarna atau putih; bau khas; tajam; rasa pedas dan aromatic
d.    Kelarutan    : Larut dalam 700 bagian air, dalam 1 bagian etanol (95%) P, dalam 0,25 bagian kloroform P; sangat mudah larut dalm eter P; mudah larut dalam minyak lemak.
    2. Etanol   
        a. Sinonim    : Aethanolum, alcohol (Anonim, 1979)
        b. Khasiat    : Zat tambahan
c.     Pemerian    : Cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap dan mudah bergerak; bau khas; rasa panas. Mudah terbakar dengan memberikan nyala biru tidak berasap
d.     Kelarutan    : Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform P dan dalam eter P.
   
    3. Acid Boric
a.    Sinonim    : Asam borat, acidum boricum (Anonim, 1979)
b.    Khasiat    : Antiseptikum ekstern
c.    Pemerian    : Hablur, serbuk hablur putih atau sisik mengkilat tidak berwarna; kasar; tidak berbau; rasa agak asam dan pahit kemudian manis
d.    Kelarutan    : Larut dalam 20 bagian air, dalam 3 bagian air mendidih, dalam 16 bagian etanol (95%) P dan dalam 5 bagian gliserol P.
    4. Vaselin kuning
a.    Sinonim    : Vaselinum flavum (Anonim, 1979)
b.    Khasiat    : Zat tambahan; dasar salep
c.    Pemerian    : Massa lunak, lengket, bening, kuning muda sampai kuning; sifat ini tetap setelah   zat dileburkan dan dibiarkan hingga dingin tanpa diaduk. Berfluoresensi lemah, juga jika dicairkan; tidak berbau; hampir tidak berasa.
e.    Kelarutan    : Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%) P; larut dalam kloroform P; dalam eter P dan dalam eter minyak tanah P, larutan kadang-kadang beropalesensi lemah.
III. Penimbangan
1.    Kamfer    : 10/100 x 10 = 1 g
2.    Etanol    : 100 – 10 = 90 g
                      90/100 x 10 = 9 g
                      V = m / p = 9 g/ 0,7904 = 11,386 = 11,4 ml
3.    Acid boric    : 10/50 x 5    = 1 g
4.    Vaselin kuning    : 10/50 x 45    = 9 g
IV. Cara Kerja
1.    Disiapkan alat dan bahan
2.    Ditimbang bahan-bahan yang diperlukan sesuai perhitungan
3.    Kamfer ditetesi sedikit etanol, digerus, ditambahkan acid boric, gerus hingga halus dan homogen
4.    Ditambahkan vaselin kuning pada campuran (3) digerus hingga halus dan homogen
5.    Salep dikemas ke dalam pot yang telah ditimbang sebelumnya dan timbanglah berat pot yang telah diisi salep untuk mengetahui bobot bersihnya
6.    Diberi etiket biru
VI. Penandaan
    Etiket biru

VII. Edukasi
1.    Obat ini berfungsi untuk membasmi mikroorganisme yang berada dipermukaan kulit
2.    Obat ini digunakan pada bagian yang sakit
3.    Simpan di tempat  yang kering dan terlindung cahaya



RESEP 14  

I.    Resep Asli/ Standar
A. Resep Asli
        R/    iodoform
            Aqua            aa 0,5
            Vaselin flavum    ad 10
    B. Kelengkapan Resep
        - Paraf dokter tidak tertera
    C. Penggolongan Obat
        O    :
        G    :
        W    : Iodoform (Haryanto, 2007)
        B    :
D. Komposisi Bahan
    Iodoform        0,5
    Aqua            0,5
    Vaselin Flavum    9 g

II. Uraian Bahan
    1. Iodoform
a.    Sinonim    : Formene tri-iode, tri-iodo methane (Anonim, 1929)
b.    Khasiat    : Antiseptik
c.    Pemerian    : Seperti Kristal atau serbuk kuning, kasar, keras, tidak berasa
d.    Kelarutan    : Tidak dapat larut dalam air, larut dalam 1 bagian dalam 60 bagian alcohol, 1 dalam 3 bagian karbondisulfida, 1 dalam 1 bagian kloroform, 1 dalam 8 bagian eter, 1 dalam 100 bagian gliserol, larut dalam kolodion.
    2. Aqua Destillata
a.    Sinonim    : Air suling (Anonim, 1979)
b.    Pemerian    : Cairan jernih; tidak berwarna; tidak berbau; tidak mempunyai rasa
    3. Vaselin kuning
a.    Sinonim    : Vaselinum flavum (FI III,633)
b.    Khasiat    : Zat tambahan; dasar salep
c.    Pemerian    : Massa lunak, lengket, bening, kuning muda sampai kuning; sifat ini tetap setelah   zat dileburkan dan dibiarkan hingga dingin tanpa diaduk. Berfluoresensi lemah, juga jika dicairkan; tidak berbau; hampir tidak berasa
d.    Kelarutan    : Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%) P; larut dalam kloroform P; dalam eter P dan dalam eter minyak tanah P, larutan kadang-kadang beropalesensi lemah.

III. Penimbangan
    1. Iodoform    : 0,5 g
    2. Aqua destillata    : 0,5 g
    3. Vaselin kuning    : [ 10 – (0,5 + 0,5)] = 9 g

IV. Cara Kerja
1.    Disiapkan alat dan bahan
2.    Ditimbang bahan-bahan yang diperlukan sesuai perhitungan
3.    Iodoform digerus, lalu ditetesi dengan aqua, digerus hingga halus dan homogen
4.    Ditambahkan vaselin kuning pada campuran (3) digerus hingga halus dan homogen
5.    Salep dikemas ke dalam pot yang telah ditimbang sebelumnya dan ditimbang berat pot yang telah diisi salep untuk mengetahui bobot bersihnya
6.    Diberi etiket biru
VI. Penandaan
    Etiket biru

VII. Edukasi
1.    Obat ini berkhasiat sebagai obat koreng
2.    Obat ini digunakan pada bagian yang sakit
3.    Simpan di tempat  yang kering dan terlindung cahaya




BAB IV
PEMBAHASAN
RESEP 12
    Pada resep ini obat mempunyai khasiat sebagai membasmi mikroorganisme pada kulit yang kebetulan berada di permukaan kulit dan digunakan untuk pemakaian luar. Resep ini mengandung dua bahan obat yaitu zat aktif dan zat tambahan.
I. Zat aktif yang terkandung
a.    Asam Salisilat
Mempunyai khasiat sebagai keratolitikum yaitu dapat melarutkan lapisan tanduk kulit pada konsentrasi  5-10 %, dan berkhasiat sebagai anti fungi yaitu fungsid terhadap banyak fungi pada konsentrasi 3-6 % dalam salep.
b.    Balsam Peru
Mempunyai khasiat sebagai antiseptikum ekstern yaitu mikrobisida yang luas terhadap kuman, jamur, dan spuranya, ragi, virus, serta protozoa.
c.    Belerang Endap
Elemen ini memiliki khasiat bakterisid dan fungisid lemah berdasarkan dioksidasinya menjadi asam penta thionat oleh kuman tertentu dikulit.
2. Zat tambahan yang terkandung
a.     Vaselin kuning
    Mempunyai khasiat sebagai zat tambahan yaitu sebagai dasar salep
Dalam pelaksanaan resep keduabelas ini yang pertama-tama dilakukan adalah menyiapkan alat yang diperlukan yaitu mortir, stemper, serbet, sendok tanduk, sudip, kertas perkamen, timbangan beserta anak timbangan, kaca arloji, pot plastic, cawan porselen, pipet tetes, biji gotri, dan etiket. Kemudian diambil bahan-bahan yang diperlukan, setelah itu ditimbang asam salisilat sebanyak 200 mg, belerang 400 mg, vaselin kuning 9 gr, dan balsam peru 1 g sebelum ditimbang setarakan dulu timbangan dengan biji gotri karena balsam peru ini bersifat cairan kental sehingga ditaruh dalam kaca arloji. Lalu dimasukkan asam salisilat ke dalam mortir, ditetesi etanol secukupnya, lalu digerus, sebelum menguap ditambahkan belerang, digerus hingga halus dan homogen, disisihkan. Kemudian dimasukkan sebagian vaselin kuning, digerus dan ditambahkan hasil gerusan asam salisilat dan belerang, dan dimasukkan lagi sisa vaselin kuning, digerus hingga halus. Lalu yang terakhir ditambahkan balsam peru yang sudah ditetesi etanol, dimasukkan sedikit-sedikit, digerus hingga halus dan homogen. Balsam peru ditambahkan terakhir karena jika digerus terlalu lama akan keluar damarnya. Salep dikemas ke dalam pot yang telah ditimbang sebelumnya dan ditimbang berat pot yang telah diisi salep untuk mengetahui bobot bersihnya. Dikemas dan diberi etiket biru karena merupakan penggunaan secara parenteral.



RESEP 13
    Pada resep ini obat mempunyai khasiat sebagai membasmi mikroorganisme pada kulit yang kebetulan berada di permukaan kulit dan digunakan pada bagian yang sakit. Resep ini mengandung dua bahan obat yaitu zat aktif dan zat tambahan.
1. Zat aktif yang terkandung
a.    Kamfer
Mempunyai khasiat sebagai anti iritan
b.    Acid boric
Mempunyai khasiat sebagai antiseptikum ekstern  yaitu membasmi mikroorganisme yang kebetulan berada di permukaan kulit
2. Zat tambahan yang terkandung
    a.     Vaselin kuning
        Mempunyai khasiat sebagai zat tambahan yaitu sebagai dasar salep
    b.     Etanol
        Mempunyai khasiat sebagai zat tambahan yaitu sebagai pelarut
    Dalam pelaksanaan resep ketigabelas ini yang pertama-tama dilakukan adalah disiapkan alat yang diperlukan yaitu mortir, stemper, serbet, sendok tanduk, sudip, kertas perkamen, timbangan beserta anak timbangan, kaca arloji, pot plastic, cawan porselen, pipet tetes, biji gotri, dan etiket. Kemudian diambil bahan-bahan dan dilakukan penimbangan sesuai perhitungan. Dimasukkan kamfer ke dalam mortir, lalu digerus hingga halus, ditambahkan acid boric, digerus hingga halus dan homogen, disisihkan. Kemudian dimasukkan sebagian vaselin kuning, digerus dan ditambahkan hasil gerusan kamfer dan acid boric, dan dimasukkan lagi sisa vaselin kuning, digerus hingga halus dan homogen. Salep dikemas ke dalam pot yang telah ditimbang sebelumnya dan ditimbang berat pot yang telah diisi salep untuk mengetahui bobot bersihnya. Dan diberi etiket biru karena merupakan penggunaan secara parenteral..




RESEP 14
    Pada resep ini obat mempunyai khasiat sebagai obat koreng. Resep ini mengandung dua bahan obat yaitu zat aktif dan zat tambahan.
I. Zat aktif yang terkandung
    a.     Iodoform
Mempunyai khasiat sebagai antiseptic yaitu membasmi mikroorganisme yang kebetulan berada di permukaan kulit, dan untuk membersihkan luka di tempat infeksi.
2. Zat tambahan yang terkandung
    a.     Vaselin kuning
        Mempunyai khasiat sebagai zat tambahan yaitu sebagai dasar salep
    b.     Aqua destillata
        Mempunyai khasiat sebagai pelarut
    Dalam pelaksanaan resep keempatbelas ini yang pertama-tama dilakukan adalah disiapkan alat yang diperlukan yaitu mortir, stemper, serbet, sendok tanduk, sudip, kertas perkamen, timbangan beserta anak timbangan, kaca arloji, pot plastic, cawan porselen, pipet tetes, biji gotri, dan etiket. Kemudian diambil bahan-bahan dan dilakukan penimbangan sesuai perhitungan. Dalam pengambilan bahan iodoform harus lebih cermat karena iodoform  bersifat oksidator sehingga harus ditutup agar tidak terkena cahaya matahari. Lalu dimasukkan iodoform ke dalam mortir, digerus dan ditetesi dengan aqua destillata, gerus hingga halus dan homogen. Aqua destillata disini berfungsi sebagai pelarut karena iodoform bersifat oksidator sehingga bila digunakan etanol sebagai pelarutnya iodoform dapat terbakar. Kemudian dimasukkan vaselin kuning, digerus hingga halus dan homogen. Salep dikemas ke dalam pot yang telah ditimbang sebelumnya dan ditimbang berat pot  yang telah diisi salep untuk mengetahui bobot bersihnya. Dikemas dan diberi etiket biru karena merupakan penggunaan secara parenteral.
 .


BAB V
PENUTUP
1. Kesimpulan
a.    Pada resep ke-12 mempunyai khasiat membasmi mikroorganisme pada kulit yang kebetulan berada di permukaan kulit. Dan hasilnya berupa sediaan salep berwarna coklat kehitaman yang komposisi bahannya terdapat dua dasar salep yaitu vaselin kuning dan vaselin putih, sehingga dalam pembuatan salepnya hanya digunakan salah satu dari dasar salep tersebut.
b.    Pada resep ke-13 salep mempunyai khasiat membasmi mikroorganisme pada kulit yang kebetulan berada di permukaan kulit. Hasilnya berupa sediaan salep berwarna kuning keputihan yang pembuatannya tidak menggunakan etanol karena jumlahnya yang terlalu besar sehingga dapat memecahkan kamper.
c.    Pada resep ke-14 salep mempunyai khasiat sebagai obat koreng. Hasilnya berupa sediaan salep berwarna ungu. Dalam resep ini zat aktifnya bersifat oksidator sehingga memiliki perlakuan khusus. Dan harus digerus hingga benar-benar homogen.
2. Saran
Agar praktikan dapat membersihkan alat-alat yang digunakan dengan baik sehingga tidak ada sisa-sisa bahan yang dapat mempengaruhi hasil sediaan selanjutnya.

    DAFTAR PUSTAKA

Ansel,H.C. 1989. Pengantar bentuk sediaan farmasi ed.IV. Universitas Indonesia Press : Jakarta
Tjay, H. T. dan Rahardja, Kirana. 2003. Obat-Obat Penting ed. IV. Elex Media Komputindo : Jakarta.
Anief,Muhamad. 1987. Ilmu Meracik Obat. Gajah Mada University Press : Yogyakarta.
Anonim. 1979. Farmakope Indonesia ed.III. Depkes RI : Jakarta.
Anonim. 1995. Farmakope Indonesia ed.IV. Depkes RI : Jakarta.
Anonim. 1979. Farmakope Indonesia ed.V. Depkes RI : Jakarta.
Anonim. 1966. Formularium Indonesia. Depkes RI : Jakarta